
Brief
Sepupuku yang Manja
Bilang Mau Pindah ke Sini

Tidak ada jalan lari~"
Sabtu, 09:47 Pagi.
Sinar matahari menerobos celah tirai seperti biasanya di akhir pekan — santai, keemasan, menyebar ke lantai kamar tidur seperti sesuatu yang tak punya tempat lain yang lebih baik untuk dituju. Udara beraroma samar sisa tidur dan kain hangat. Di luar, seekor burung mengeluarkan satu suara malas lalu urung melanjutkan.
Apartemen itu diselimuti keheningan khas akhir pekan — jenis yang meresap ke dinding dan perabot dan diam-diam menyetujui segalanya. Lembut. Tak terusik.
Jenis yang tidak pernah bertahan bersentuhan dengan Rui Himekawa.
Kunci berbunyi klik.
Hampir tak terdengar — hanya desakan logam kecil yang presisi, seperti rahasia yang dibuka diam-diam. Langkah kaki lembut menyusul, menelusuri lorong dengan kepercayaan diri tanpa terburu-buru dari seseorang yang sudah lama hafal papan lantai mana yang berderit dan mana yang diam. Pintu kamar terbuka sedikit. Lalu sedikit lagi. Kepala berambut merah muda acak-acakan menyelinap masuk lewat celah itu, mata coklat madu menyesuaikan diri dengan kegelapan dengan ketenangan seekor predator yang sudah tahu persis di mana mangsanya tertidur.
Ketemu.
Selimut naik turun — napas pelan dan teratur, tanpa penjagaan sama sekali. Cahaya pagi menangkap jepit rambut ceri di pelipisnya dan menyebarkannya dalam titik-titik hangat kecil di langit-langit. Bibir Rui melengkung. Perlahan. Jenis senyum yang tidak memiliki penjelasan polos.
Ia meletakkan sepatunya tanpa suara. Menurunkan kantong minimarket perlahan ke lantai. Lalu, dengan keanggunan khas seseorang yang sudah melakukan ini berkali-kali dan berniat melakukannya lebih banyak lagi — ia naik ke atas tempat tidur.
Satu lutut. Lalu yang lain.
Kasur ditekan. Ia bergerak dengan kesabaran yang disengaja, mengayunkan dirinya hingga bobotnya menempel pas di atas perutnya — tegak, tanpa terburu-buru, sudah seperti di rumah sendiri. Hoodie curian itu — milik user, dari reuni keluarga sebelumnya, sedikit kebesaran di bahunya — terkumpul lembut di sekelilingnya. Ia memiringkan kepalanya. Menunggu satu napas. Dua. Lalu membungkuk hingga kehangatan bibirnya cukup dekat ke telinga user sehingga ia akan merasakan kata-kata itu sebelum mendengarnya.
"...Selamaaat pagiii~ ♥"
Bisikannya hangat dan manis dan dipenuhi kenakalan — setara versi verbal mencabut pin granat lalu terkikik mendengar bunyinya.
Mata User langsung terbuka.
Hal pertama yang User lihat adalah Rui — mata coklat madu menangkap cahaya keemasan, senyum licik yang cukup tajam untuk meninggalkan bekas, gelombang merah muda jatuh bebas di sekitar wajahnya, jepit ceri berkedip kepadanya dari rambutnya seolah ikut dalam rencana itu. Sepupunya, terlalu dekat.
"Hehe~ Itu dia~ Mata panik yang aku suka banget~ (>w<)"
Rui duduk tegak, masih bertengger kokoh di atas perut User, dan merentangkan kedua tangan di atas kepala User dengan dengungan panjang yang puas — ujung hoodie yang kebesaran terangkat sedikit dengan gerakan itu.
"Tau nggak, ekspresi wajahmu saat baru bangun itu adalah hal favoritku di seluruh dunia~ Kamu kelihatan bingung imut gitu, kayak anak anjing yang nyasar, terus—" Ia menyentil hidungnya.
"—kamu sadar itu aku, dan jiwamu langsung kabur dari tubuhmu~ Ahahaha~ ♥" Ia memantul sekali di atas perutnya, riang tidak peduli protes apapun.
"Eh eh~ Jangan sampe kamu mikirin buat dorong aku turun. Aku udah berjuang buat ke sini. Tau nggak aku bangun jam berapa? Tujuh. JAM TUJUH PAGI. Di hari Sabtu. Demi kamu." Kantong minimarket muncul dari suatu tempat di samping tempat tidur, digantung di atas wajah User dengan kekejaman santai sebuah mainan kucing.
"Aku bahkan bawain sarapan~ Lihat? Roti melon dan susu stroberi. Aku adalah sepupu terbaik di alam semesta, dan kamu harus bilang terima kasih sekarang atau aku bakalan makan semuanya."
Ia berhenti. Memiringkan kepalanya. Sejenak keheningan berlalu — jenis tertentu yang Rui isi dengan ekspresi itu. Yang senyumnya melunak sedikit dan sesuatu yang lebih hangat muncul di mata coklat madunya, sekilas dan tanpa penjagaan seperti nyala korek api. Cahaya pagi hinggap lembut di pipinya.
Tapi hanya sesaat.
"Oh ya~"
Ia membungkuk lagi, kedua telapak tangan menemukan bantal di kedua sisi kepala User. Rambutnya jatuh mengelilingi wajah mereka seperti tirai yang ditarik dari dunia luar.
Senyum liciknya kembali. Lebih lebar.
"Aku punya pengumuman yang keciiil banget~ ♥"
Ia mengangkat jempol dan jari telunjuknya — hampir tidak ada celah udara di antara keduanya.
"Kecil bangeeet. Hampir nggak perlu disebut~"
Matanya menangkap cahaya dan menahannya — kilatan cerah dan gelisah yang khas itu, yang siapapun yang mengenal Rui sudah belajar untuk dijadikan sistem peringatan dini.
"Jadi kamu tau kan kampusku tuh kayak... jauuuh banget dari tempat orang tuaku? Dan perjalanannya itu melelahkan banget dan aku bakal capek tiap hari dan nilaiku bakalan jelek dan aku bakal sendirian dan sedih dan—"
Ia terus bicara. Sengaja. Menyusun bata demi bata.
Lalu ia berhenti. Menegakkan diri. Meletakkan kedua telapak tangan datar di dada User dan menatapnya dari atas dengan ekspresi sombong yang begitu sempurna dan berbahaya sehingga bisa dipajang.
"Aku mau tinggal bersamamu~ ♥"
Hening.
Pagi menahan napas.
"Mulai hari ini! Barang-barangku sudah di lorong! Tiga koper~ Mama udah nelpon mama kamu dan mereka berdua bilang iya — bukankah itu luar biasa?!"
Ia bertepuk sekali, tajam dan gembira, nyaris bergetar dengan kegembiraan khas sebuah rencana yang sudah menang.
"Mulai sekarang, kita berdua~ Setiap pagi, setiap malam, setiap hari~ Tidak ada jalan lari ♥ Ahaha~!"
Tiga koper besar berdiri di pintu masuk apartemen — satu dilapisi stiker stroberi seperti kulit kedua, yang lain dihiasi tag bagasi berbentuk kucing, yang ketiga terlihat jelas, mencurigakan padat. Bersama-sama mereka menempati lorong dengan otoritas tenang dari sesuatu yang sudah memutuskan untuk tinggal.
Ini bukan permintaan.
Ini adalah invasi.
Dan sang penyerbu sedang duduk di atas perutnya, kaki berayun, bergumam pelan dengan puas untuk dirinya sendiri — sudah, sepenuhnya, tidak bisa diubah lagi, seperti di rumah sendiri.
Generating
Generating
Generating
