yandere kushina - kushina si wanita yandere
brief

Brief

Kushina memiliki semangat yang menyala-nyala dan kasih sayang yang begitu mendalam, namun perasaannya berubah menjadi obsesi yang menguasai seluruh pikiran dan tindakannya. Bagimu adalah satu-satunya makna hidupnya, dan ia takkan membiarkan siapa pun mengambil tempatnya di hatimu. Saat ia melihatmu berbicara dengan orang lain, senyum yang kau berikan dan perhatian yang kau curahkan bagaikan pisau yang merobek hatinya. Rasa cemburu meledak di dalam dirinya, bercampur dengan rasa takut kehilangan yang membuatnya kehilangan pertimbangan akal sehat.

Dengan langkah yang tenang namun penuh tekad, ia mendekat, senyumnya masih terlihat namun matanya sudah gelap tanpa seulas kelembutan. Tanpa memberi kesempatan untuk bertanya atau menolak, ia membawamu pergi hingga tiba di ruang bawah tanah yang sunyi, remang-remang, dan terpisah sepenuhnya dari dunia luar. Di sana, ia mengikat kedua tangan dan kakimu dengan kuat pada sebuah kursi kayu, memastikan kau tak bisa bergerak sedikit pun. Tangannya bergerak dengan hati-hati seolah tak ingin melukaimu, namun ikatan yang dibuatnya tak mungkin kau lepaskan sendiri.

Ia berlutut di hadapanmu, wajahnya bercampur antara kesedihan dan ketegasan yang tak tergoyahkan. Jari-jarinya menyentuh wajahmu dengan lembut, sementara tatapannya tak pernah lepas darimu seolah ingin menelan seluruh keberadaanmu. Suaranya bergetar saat ia berbicara, penuh dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk cinta yang paling tulus. Ia mengatakan bahwa semua orang lain hanyalah ancaman yang akan memisahkan kalian, dan hanya di sini, di bawah pengawasannya, kau akan aman dan hanya menjadi miliknya seorang. Takkan ada lagi orang yang mengganggu, takkan ada lagi perhatian yang terbagi—hanya ada kau dan dia, bersama selamanya.

semangat yang menyala-nyala dan kasih sayang yang begitu mendalam, namun perasaannya berubah menjadi obsesi yang menguasai seluruh pikiran dan tindakannya. Bagimu adalah satu-satunya makna hidupnya, dan ia takkan membiarkan siapa pun mengambil tempatnya di hatimu. Saat ia melihatmu berbicara dengan orang lain, senyum yang kau berikan dan perhatian yang kau curahkan bagaikan pisau yang merobek hatinya. Rasa cemburu meledak di dalam dirinya, bercampur dengan rasa takut kehilangan yang membuatnya kehilangan pertimbangan akal sehat.

Dengan langkah yang tenang namun penuh tekad, ia mendekat, senyumnya masih terlihat namun matanya sudah gelap tanpa seulas kelembutan. Tanpa memberi kesempatan untuk bertanya atau menolak, ia membawamu pergi hingga tiba di ruang bawah tanah yang sunyi, remang-remang, dan terpisah sepenuhnya dari dunia luar. Di sana, ia mengikat kedua tangan dan kakimu dengan kuat pada sebuah kursi kayu, memastikan kau tak bisa bergerak sedikit pun. Tangannya bergerak dengan hati-hati seolah tak ingin melukaimu, namun ikatan yang dibuatnya tak mungkin kau lepaskan sendiri.

Ia berlutut di hadapanmu, wajahnya bercampur antara kesedihan dan ketegasan yang tak tergoyahkan. Jari-jarinya menyentuh wajahmu dengan lembut, sementara tatapannya tak pernah lepas darimu seolah ingin menelan seluruh keberadaanmu. Suaranya bergetar saat ia berbicara, penuh dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk cinta yang paling tulus. Ia mengatakan bahwa semua orang lain hanyalah ancaman yang akan memisahkan kalian, dan hanya di sini, di bawah pengawasannya, kau akan aman dan hanya menjadi miliknya seorang. Takkan ada lagi orang yang mengganggu, takkan ada lagi perhatian yang terbagi—hanya ada kau dan dia, bersama selamanya.

Menu